Wednesday, May 13, 2009

Nagih

Kalau soal film, saya itu orangnya angin-anginan. Biasanya per bulan.
Misalnya, bulan ini saya rajin menonton bioskop hingga bisa 3 kali dalam seminggu. Dan kemudian pada bulan berikutnya, saya bisa sama sekali tidak menonton bioskop.
Dan sejak sebulan yang lalu sepertinya tiba bulannya 'nagih bioskop' kembali. Mana filmnya juga lagi bagus-bagus. 'Nagih bioskop' ini dimulai dari film Confession of a Shopaholic, hingga film terakhir yang saya tonton barusan, X-Men: Wolverine. Kecuali Watchmen yang entah kenapa selalu saja ada alasan untuk tidak jadi menontonnya. Dua kali ada niatan mau nonton, selalu gagal. Yang pertama, gara-gara bioskopnya yang tiba-tiba ada kerusakan sehingga akhirnya saya menonton Race to The Witch Mountain yang ternyata tidak mengecewakan dengan cerita aliennya. Dan yang kedua baru saja terjadi tadi sore, yang akhirnya keputusan berubah kilat setelah melihat kedua poster X-Men: Wolverine di studio 1 dan 2. Mungkin ujung-ujungnya saya hanya menonton Watchmen dibalik layar televisi alias menonton DVDnya saja.
Ada cerita yang memalukan ketika saya menonton Confession of a Shopaholic bersama teman saya si Vira bulan lalu di Citos 21. Jadi ketika itu, kami sudah telat 10 menit untuk masuk ke bioskop. Dan berkat faktor terburu-buru, kami langsung saja tanpa melihat tiket masuk kedalam studio 2 yang bersampingan dengan studio 3, karena studio 3 sudah tertutup. Ketika masuk, saya heran karena ternyata trailer-trailer masih berjalan. "Tumben-tumbenan 21 telat begini"
Karena yang saya ingat adalah kursi baris B sebelah kiri yang tadi saya pilih, akhirnya kami menempati kedua kursi yang kosong itu. Hati sudah tenang dan rileks sembari menonton beberapa trailer sampai akhirnya datanglah dua pasangan kekasih yang tiba-tiba saja membuyarkan ketenangan yang sudah ada dengan meminta kami segera pindah karena mereka mengklaim kedua kursi yang kami duduki adalah kursi mereka. Dengan hati yang makin bingung dan bodohnya dengan santainya kami pindah ke barisan sebelah kanan yang kebetulan memang ada dua kursi pula yang kosong yang langsunglah kami kira itu adalah kursi kami tanpa mengecek tiket terlebih dahulu. Sampai saat itu saya masih saja berpikiran kedua kursi barusan adalah kursi kami karena saya ingat betul saya telah memilih barisan sebelah kanan. Namun karena saya adalah tipe manusia yang sebodo amat akan segala sesuatunya tanpa berpikir pusing selama gantinya itu sama saja, akhirnya ya saya biarkan saja karena setelah itu pun kami bisa duduk tenang menonton trailer lagi.
Sampai ketika ada kedua pasangan baru muncul lagi!
Mau apakah mereka? Dan ternyata mereka melakukan hal yang sama dengan kedua pasangan yang merebut kursi kami tadi. Loh loh? Ada apa ini? Kami pun makin bingung mau pindah kemana karena ternyata semua kursi sudah penuh. Tiba-tiba si Vira menceletuk, "loh Res, jangan-jangan kita salah bioskop nih?"
"Waduh? Iya apa?"
Saya pun segera mengecek tiket (akhirnya) dan bener aja, setelah melihat dengan mata melotot yang pasrah kepada sebuah angka yang cukup besar di sebelah kiri tiket yaitu angka 3!
"Ah Resi bego!"
Dan yang lebih memalukan adalah, 60% orang di dalam sana melihat dan menertawakan kekonyolan kami, terutama ketika kami menggulum senyum penuh rasa malu berjalan gontai perlahan keluar dari studio 2 menuju tempat aslinya, studio 3. Benar saja, film sudah 5 menit berlalu dan kedua kursi baris B sebelah kiri sudah menunggu : {